Aku Air, Ingin Menjadi Api
Aku ingin menjadi api
membakar guguran daun sepi
dari ranting-ranting sendiri yang menjulang tinggi
Aku ingin menjadi api
kecil-kecil nyala lilin, menerangi gulitanya hati
tak peduli pada mati yang menanti (-ku)
Aku ingin menjadi api
menghangatkanmu dari dinginnya apitan bumi
nanti, biar Dia yang kehendaki
Tapi sayang, aku tetesan air
dari kedua matamu, aku terlahir
Bayi-Bayi
Aku adalah ayah
dari bayi-bayi masa lalumu
Kamu adalah ibu
dari bayi-bayi suamimu
Kita sepasang ayah-ibu
dari bayi-bayi waktu
Cianjur, 15 Mei 2018
Selamat Pagi
Selamat pagi si masa depan
semoga kau dapat kusegerakan
duduk berdua di kursi halaman
menikmati pagi menghirup sejuk ikatan
Bulu-Bulu Waktu
Di antara lebatnya bulu-bulu waktu
kupilah-pilah untuk menemukanmu
dihardik tanpa henti kedua bibir angin
tak kudengar, kau masih kuingin!
Harap hatiku bermuara
pada teguhnya kaki-kaki doa;
pada tulusnya wajah asa
Kucari-cari kamu
di antara lebatnya bulu-bulu waktu
Tak Mau
Aku tak mau menjadi udara
wajahnya menengadah, bibirnya menciumi cakrawala
jemari kakinya menggelitiki bumi, hanyutkan dalam tawa
Aku tak mau menjadi bumi
dicumbui udara dalam bagi
Tak pula menjadi langit
mencintai begitu sengit
Kumau tetap menjadi diriku
terus mencintaimu bersama udara dalam paru
Aku Air
Aku air, yang kau pandangi
tapi tak jatuh dalam rintik
tapi tak membasahi bumi
tapi tak membuat hatimu sudi melirik
Alu air, yang kau minum
tapi tak mendinginkan kulit tenggorokanmu
tapi tak menyejukkan dadamu
tapi tak menghilangkan dahagamu
Aku api
yang dibungkus kulitnya air
Subuh yang Asing
Subuh ini begitu asing
bukan wajah alam yang kumaksud
embun dan gelap yang memudar masih sama seperti biasa
Waktunya seolah datang lebih cepat
Jangan-jangan malam mulai berkhianat!
atau mungkin, pagi yang terlalu bersemangat?
Subuh ini begitu asing
di belakang simpuh subuhku, kamu telah menyingsing
Ada Hantu
Ada hantu,
di balik kedua bibir merahmu
di atas indra pengecap;
berlindung dalam dagingnya hati
Ada hantu,
di sela-sela jemari tanganmu
di usap punggungku
di hangat singgung tubuh kita
Ada hantu,
ternyata memang kamu
Oleh: Ali Mufti
Aku ingin menjadi api
membakar guguran daun sepi
dari ranting-ranting sendiri yang menjulang tinggi
Aku ingin menjadi api
kecil-kecil nyala lilin, menerangi gulitanya hati
tak peduli pada mati yang menanti (-ku)
Aku ingin menjadi api
menghangatkanmu dari dinginnya apitan bumi
nanti, biar Dia yang kehendaki
Tapi sayang, aku tetesan air
dari kedua matamu, aku terlahir
Cianjur, 16 Mei 2018
Bayi-Bayi
Aku adalah ayah
dari bayi-bayi masa lalumu
Kamu adalah ibu
dari bayi-bayi suamimu
Kita sepasang ayah-ibu
dari bayi-bayi waktu
Cianjur, 15 Mei 2018
Selamat Pagi
Selamat pagi si masa depan
semoga kau dapat kusegerakan
duduk berdua di kursi halaman
menikmati pagi menghirup sejuk ikatan
Cianjur, Mei 2018
Bulu-Bulu Waktu
Di antara lebatnya bulu-bulu waktu
kupilah-pilah untuk menemukanmu
dihardik tanpa henti kedua bibir angin
tak kudengar, kau masih kuingin!
Harap hatiku bermuara
pada teguhnya kaki-kaki doa;
pada tulusnya wajah asa
Kucari-cari kamu
di antara lebatnya bulu-bulu waktu
Cianjur, Mei 2018
Tak Mau
Aku tak mau menjadi udara
wajahnya menengadah, bibirnya menciumi cakrawala
jemari kakinya menggelitiki bumi, hanyutkan dalam tawa
Aku tak mau menjadi bumi
dicumbui udara dalam bagi
Tak pula menjadi langit
mencintai begitu sengit
Kumau tetap menjadi diriku
terus mencintaimu bersama udara dalam paru
Cianjur, Mei 2018
Aku Air
Aku air, yang kau pandangi
tapi tak jatuh dalam rintik
tapi tak membasahi bumi
tapi tak membuat hatimu sudi melirik
Alu air, yang kau minum
tapi tak mendinginkan kulit tenggorokanmu
tapi tak menyejukkan dadamu
tapi tak menghilangkan dahagamu
Aku api
yang dibungkus kulitnya air
Cianjur, Mei 2018
Subuh yang Asing
Subuh ini begitu asing
bukan wajah alam yang kumaksud
embun dan gelap yang memudar masih sama seperti biasa
Waktunya seolah datang lebih cepat
Jangan-jangan malam mulai berkhianat!
atau mungkin, pagi yang terlalu bersemangat?
Subuh ini begitu asing
di belakang simpuh subuhku, kamu telah menyingsing
Cianjur, Mei 2018
Ada Hantu
Ada hantu,
di balik kedua bibir merahmu
di atas indra pengecap;
berlindung dalam dagingnya hati
Ada hantu,
di sela-sela jemari tanganmu
di usap punggungku
di hangat singgung tubuh kita
Ada hantu,
ternyata memang kamu
Cianjur, Mei 2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan menambahkan komentar
Kritik dan sarannya anda sangat saya perlukan