Langsung ke konten utama

iklan3

Puisi (Eps. 2)

Aku Air, Ingin Menjadi Api
Oleh: Ali Mufti

Aku ingin menjadi api
membakar guguran daun sepi
dari ranting-ranting sendiri yang menjulang tinggi

Aku ingin menjadi api
kecil-kecil nyala lilin, menerangi gulitanya hati
tak peduli pada mati yang menanti (-ku)

Aku ingin menjadi api
menghangatkanmu dari dinginnya apitan bumi
nanti, biar Dia yang kehendaki

Tapi sayang, aku tetesan air
dari kedua matamu, aku terlahir

Cianjur, 16 Mei 2018



Bayi-Bayi

Aku adalah ayah
dari bayi-bayi masa lalumu

Kamu adalah ibu
dari bayi-bayi suamimu

Kita sepasang ayah-ibu
dari bayi-bayi waktu


Cianjur, 15 Mei 2018


Selamat Pagi

Selamat pagi si masa depan
semoga kau dapat kusegerakan
duduk berdua di kursi halaman
menikmati pagi menghirup sejuk ikatan

Cianjur, Mei 2018






Bulu-Bulu Waktu

Di antara lebatnya bulu-bulu waktu
kupilah-pilah untuk menemukanmu
dihardik tanpa henti kedua bibir angin
tak kudengar, kau masih kuingin!

Harap hatiku bermuara
pada teguhnya kaki-kaki doa;
pada tulusnya wajah asa

Kucari-cari kamu
di antara lebatnya bulu-bulu waktu

Cianjur, Mei 2018



Tak Mau

Aku tak mau menjadi udara
wajahnya menengadah, bibirnya menciumi cakrawala
jemari kakinya menggelitiki bumi, hanyutkan dalam tawa

Aku tak mau menjadi bumi
dicumbui udara dalam bagi
Tak pula menjadi langit
mencintai begitu sengit

Kumau tetap menjadi diriku
terus mencintaimu bersama udara dalam paru

Cianjur, Mei 2018


Aku Air

Aku air, yang kau pandangi
tapi tak jatuh dalam rintik
tapi tak membasahi bumi
tapi tak membuat hatimu sudi melirik

Alu air, yang kau minum
tapi tak mendinginkan kulit tenggorokanmu
tapi tak menyejukkan dadamu
tapi tak menghilangkan dahagamu

Aku api
yang dibungkus kulitnya air

Cianjur, Mei 2018



Subuh yang Asing

Subuh ini begitu asing
bukan wajah alam yang kumaksud
embun dan gelap yang memudar masih sama seperti biasa

Waktunya seolah datang lebih cepat
Jangan-jangan malam mulai berkhianat!
atau mungkin, pagi yang terlalu bersemangat?

Subuh ini begitu asing
di belakang simpuh subuhku, kamu telah menyingsing

Cianjur, Mei 2018




Ada Hantu

Ada hantu,
di balik kedua bibir merahmu
di atas indra pengecap;
berlindung dalam dagingnya hati

Ada hantu,
di sela-sela jemari tanganmu
di usap punggungku
di hangat singgung tubuh kita

Ada hantu,
ternyata memang kamu

Cianjur, Mei 2018

Komentar

iklan

iklan 2