Namaku Gilan, berumur 30 tahun, tinggal di sebuah rumah berukuran 5x3 m, dengan ruang tamu 2x3 m, kamar tidur 3x3 m, dapur 2x4m, dan kamar mandi 1x1 m yang ada di dalam dapur tersebut. Rumah ini merupakan peninggalan ayahku yang kata orang ia telah meninggal dua tahun lalu, tapi sebenarnya ayah hanya tidur, aku tidak bilang ke orang-orang desa, karena ini rahasia aku dan ayahku. Sedangkan ibuku telah diculik dan tidak pernah bertemu denganku sejak 25 tahun lalu, sehingga aku pun tidak tahu keberadaaannya, dan bahkan tidak ingat wajahnya.
Setiap hari aku mencari makanan di lingkungan sekitar untuk mengisi perutku, namun tak jarang pula Tuti datang ke rumahku untuk mengantarkan makanan, ia adalah teman dekatku saat ini. Aku mengenalnya saat sedang duduk bersantai di pinggiran sungai yang letaknya sekitar 30 m dari rumahku.
Saat itu aku sedang menikmati udara segar di pinggiran sungai, melihat ikan, gemuruh aliran dari air sungai, serta pohon trembesi besar yang ada di sebrang tempat aku duduk, dan juga anak-anak kecil yang berenang sambil bermain di sungai tersebut, sambil sesekali mengarahkan sorotan mata jahat kepadaku, aku tidak memperdulikannya. Saat itu seorang wanita nampak dengan tiba-tiba dan berjalan menyeberangi sungai dangkal, seolah menuju ke arahku.
“Hahaha, sendirian. Aku Tuti”, sapa wanita itu sambil tertawa.
“Aku Gilan”, jawabku.
Saat itu adalah awal pertama kali kami bertemu, dan melanjutkan obrolan yang panjang lebar membahas ikan, sungai, ayahku yang tidur, pokoknya apapun yang membuat kami tertawa.
Sejak aku mengenal Tuti, aku merasa bahagia, setidaknya memiliki alasan untuk tersenyum karena keberadaannya, dan juga dia sama denganku. Tak jarang dia mengajakku untuk berjalan-jalan mencari makanan bersama di sekitaran desa, dan juga menemaniku menjenguk ayahku yang sedang tidur di dalam suatu gundukan tanah. Kami benar-benar merasakan kebahagiaan yang barangkali mendekati sempurna, tidak ada tangis, hanya tawa.
Suatu ketika pada saat pagi hari, saat aku masih tertidur pulas di kamarku, Tuti datang ke rumahku, lalu kemudian membangunku, katanya ingin mengajakku mencari makan di tempat baru. Tuti bisa langsung masuk ke dalam rumah karena memang aku tidak pernah menutup pintu rumahku, siang malam tidak pernah, supaya ayah tidak kesulitan masuk rumah. Aku dan Tuti berjalan searah dengan arah pinggiran sungai yang biasa aku tempati untuk duduk. Setelah sekitar 20 menit berjalan, kami tiba di sebuah persawahan dengan rel kereta api di tengah salah satu petak sawah, dimana ada seorang petani yang sibuk mencangkul tanah, namun ia nampak mengacuhkan kami. Setelah beberapa menit, kami menemukan plastik hitam yang berisi makanan di pinggir rel.
“Kita makan di sini, enak, bisa melihat kereta yang lewat. Gujes,gujes”, Tuti sambil tertawa.
“Iya, gujes gujes. Tapi kok nggak ada keretanya?”, tanyaku.
“Belum, nanti juga lewat, ayo makan”, jawabnya.
“Aku pengen naik kereta, kamu nggak pengen Tuti?”
“Boleh, nanti kita naik bareng, aku berhentiin keretanya”, jawab Tuti.
Kami pun makan bersama sambil menunggu kereta lewat, dan tak lama kemudian terlihat kereta melaju ke arah kami. Aku langsung bahagia, berdiri meloncat-loncat di samping rel sambil sesekali memakan makananku, sedangkan Tuti sudah berada di tengah rel kereta sambil berteriak-teriak untuk memberhentikan kereta, supaya kami bisa menaikinya. Namun, kereta tidak mau berhenti, Tuti terlempar dari rel, jauh melewatiku, dan ia seperti tertidur, aku membangunkannya, namun ia tak mau bangun, persis seperti ayahku, lalu aku menunggunya hingga bangun.
Tak lama kemudian orang-orang datang membawa Tuti entah kemana, dan dua orang dari mereka membawaku ke rumah baru yang berisi banyak teman. Aku bahagia karena di sana tidak perlu masak, tidak dibilang “gila” lagi oleh anak-anak kecil di daerahku, pokoknya aku bahagia.
Gilanya seseorang pada kasus ini adalah Gilan dan Tuti, bukanlah serta merta suatu kesalahan mutlak dari diri mereka, yang kemudian menjadikan mereka tidak setara dengan manusia, sehingga mengurangi rasa peduli antar diri yang memiliki fikir dan nurani seperti halnya tidakan acuh si petani dan warga sebelum Tuti meninggal dunia, padahal ada baiknya segera membawa mereka ke Rumah Sakit Jiwa sejak awal. Menurut saya, gila hanyalah sebuah anggapan “tidak normalnya perilaku seseorang atau golongan kecil oleh orang banyak atau golongan yang lebih besar. Pandai menempatkan diri adalah kuncinya, karena pada dasarnya kita tidak akan pernah tahu apakah kita gila atau tidak menurut pandangan Tuhan, karena Dialah sebenar-benarnya penilai pandangan”.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan menambahkan komentar
Kritik dan sarannya anda sangat saya perlukan