Langsung ke konten utama

iklan3

Puisi




Secarik Kertas untuk Lupita


Di pagi buta di ujung sudut pupus
Aku yang kepayang dalam lalai pandangan
Maju menerjang tabir keberadaan adat

Terlarang oleh kekang ketentuan
Tak dapat ku yakinkan dengan pasti
Belum menyerah, masih dengan harap

Apa yang ada dalam benakmu, Lupita?
Akankah kita segigih rencana?
Ataukah melebur pupus dalam petaka?


dalam novel “...........”


                                    
                                     Alimufti


instagram: @alimufti1





Selayang Pandang

Selayang pandang yang kian hari kian terkenang
Menghujan dengan deras dalam ingatan
Berlalu lalang di atas jalan sepi hati yang kosong
Mematri seolah tak mau pergi, meski tuannya tak lagi di sisi

Menutup rapat pintu hati yang sedang ku ketuk
Menggelapkan langit dalam cerahnya mentari
Diiringi hembus topan "akan dilupakan", asaku kian lekang

Ku hentikan langkahku
Bukan karena enggan, tak pula goyahnya niat
Ku rasa sudah cukup
Ku jadikan selayang pandang sebagai kenangan

alimufti

instagram: @alimufti1





Apa Harus

Aku memang mencintaimu,
Tapi apa harus aku bertekuk lutut?
Aku memang mencintaimu,
Tapi apa harus aku bersujud?
Aku memang siap berjuang,
Tapi apa harus darah sayat penuhi tubuhku?

Bukannya aku setengah-setengah,
Aku hanya mencoba realistis
Mencintaimu sekaligus menempatkanmu di bawah Tuhanku

alimufti

instagram: @alimufti1




Ranum Sekejap


Dalam lebat yang maha dahsyat
Umpat pelangi menahan malu
Ku paksa ucap dari bibir yang terpatri

Semangat sayu menjelang kandas
Dirajai putus asa tanpa bijaksana
Kutitipkan senyum yang telah ranum
Dalam kilat yang begitu sekejap

alimufti


instagram: @alimufti1


Komentar

  1. Bagus kak puisinya :)
    Diksinya cakep.
    Boleh doonk ajari kak 😅😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak...mohon kritik dan sarannya ya kak🙏🙏🙏

      Hapus

Posting Komentar

Silahkan menambahkan komentar

Kritik dan sarannya anda sangat saya perlukan

iklan

iklan 2